1. Karena di sekolah jarang diperbolehkan pawai, sebagian waktu untuk duduk di kelas, kursi yang statis, tidak ada mobilitas, kalau pawai penuh mobilitas. Intinya masa sekolah kurang bahagia.
2. Pawai itu bisa untuk pamer dan cari perhatian, kalau tidak pawai siapa yang tahu kalau dia sudah lulus sekolah? Paling cuma teman sekelas dan ortu, kalau pawai, semua orang bisa tahu kalau dia sudah lulus.Intinya, prestasinya sampai saat itu kurang dihargai dan butuh dihargai.
3. Pawai itu sudah dianggap tradisi cara merayakan keberhasilan, seperti yang sering dilihat mereka waktu ada keberhasilan para wakil daerahnya dibidang olahraga dll. Intinya mereka cuma meniru tradisi yang ada dan merasa haknya berpawai, sama dengan para juara itu.
4. Mereka berpawai dengan motor dll karena memang ada fasilitasnya, mereka punya atau bisa memakainya. Coba kalau tidak ada itu semua, hari gini siapa mau capek-capek jalan kaki pelan-pelan di jalanan? Intinya, ada kemudahan yang mendukung.
5. Mereka pawai karena tidak ada kesibukan lain yang mereka kerjakan. mereka dalam posisi menunggu dan rata-rata aktivitasnya sudah nol alias nganggur. Coba kalau para pelajar ini punya aktifitas bisnis atau kerjaan yang cukup menyita waktu mereka, mana sempat pawai? Enakan cari duit atau cari ilmu baru di luar mapel sekolah (ngoprek komputer, otomotif, gadget, elektro, penelitian). Intinya, mereka pengangguran tidak kentara.
Laskar Pelangi
Permisi, MILES……
Sepuluh Hal Tidak Berguna
- Ilmu yang tidak diamalkan
- Amalan yang tidak ikhlas
- Uang yang ditimbun (tak dibelanjakan untuk dinikmati oleh pemiliknya selama di dunia maupun di sedekahkan untuk dinikmati di akhirat.)
- Hati yang kosong dari mencintai dan merindukan Allah, serta mencari kedekatan pada-Nya
- Badan yang tidak menaati dan beribadah pada Allah
- Mencintai Allah tanpa mengikuti perintah-Nya atau apa yang disukai-
- Waktu yang tak digunakan untuk menebus dosa atau merampas/menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik
- Pikiran yang memikirkan tentang hal-hal tak berguna
- Melayani orang-orang (pekerjaan) yang tak membawa kedekatan pada Allah, atau tak menguntungkan bagi kehidupan Anda
- Berharap dan takut pada siapapun yang ada di bawah kekuasaan Allah, sementara orang/makhluq itu tak mampu membawa manfaat dan mudharat pada dirinya sendiri, tentang hidup atau mati, diapun tak mampu membangkitkan diri dari kematian.
Namun, yang terbesar dari hal-hal ini adalah memboroskan hati dan membuang-buang waktu. Memboroskan hati dilakukan dengan lebih menyukai hal keduniwian daripada hal keakhiratan. Memboroskan waktu dilakukan dengan mempunyai harapan yang berulang-ulang. Kerusakanterjadi dengan mengikuti keinginan seseorang dan terus menerus berharap, sementara seluruh kebaikan ditemukan dalam mengikuti jalan kebenaran dan mempersiapkan diri untuk bertemu Allah.
Sungguh aneh, saat seorang hamba Allah punya masalah (keduniaan) dia meminta pertolongan Allah, tetapi tak pernah meminta pada Allah untuk menyembuhkan hatinya sebelum matinya dari ketidaktahuan, kelalaian, memenuhi kemauan seseorang dan terlibat bidah. Memang, ketika hati mati, seseorang tidak akan pernah merasakan arti dan dampak dari dosa-dosanya.
Ibn Qayyim al Jawziyyah
www.islaam.com
Jalan ke Jogja, Jalan-jalan ke Masa Remaja
Rabu sore, (18/02), kami (me and my wife), menyempatkan berjalan-jalan ke Jog-Yes ( Malioboro). Cukup lama saya tidak merasakan suasana sore di kota gudheg ini. Masih ingat, paling-paling seringnya dulu saya jalan ke sana sama teman-teman cowok. Bedanya sekarang sudah jalan sama istri (:-)). Tentu selalu ada perubahan fisik yang terjadi, namun suasananya bagi saya tidak banyak berubah. Pengamen kreatif (seniman, mahasiswa) bisa berganti orang karena mereka sudah tidak di Jogja lagi tetapi toh tetap ada pengamen. Para pedagang pinggir jalan pun masih setia berjualan produk kreatif para pengrajin meski mal dan produk industri massal membanjiri. (hmm…kayak di lagunya KLA Project). Baliho Jogja never ending asia juga tampak terpampang di banyak tempat menawarkan promosi wisata.
Tulisan ini tidak menceritakan indahnya Jogja, tetapi sebuah pengamatan perubahan yang terasa dan mengusik hati penulis saat berkeliling di Jogja, terutama mengingatkan masa single dulu.
Kota Jogja, dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, otomatis adalah kotanya para remaja. Mereka yang dari rumah, meninggalkan ortu dan kampung halamannya di seluruh penjuru Indonesia, berniat menuntut ilmu akhirnya berkumpul di Jogja. Rumah saya cuma 1 jam perjalanan dari kota Jogja, meski saya tidak pernah menetap lebih dari tiga bulan di kota ini, saya cukup familier dengan Jogja. Karena sering ke tempat teman-teman sekolah, dari cerita mereka dan yang saya saksikan sendiri, remaja Jogja tidak beda dengan remaja kota metropolis lainnya. Ekspresi seni mereka dikaitkan dengan life style-sesuatu yang indah yang bisa di sapa seni tersebut sangat identik dengan budaya. Dimana ada seni lahirlah budaya. Satu yang saya lihat sangat memprihatinkan saat ini adalah banyak pihak yang kurang mengingatkan para remaja supaya hati-hati dalam mengekspresikan seni dan mengambil budaya.
Kalau siang Jogja masih terasa panas. Meski tak sepanas Surabaya.(Barangkali karena saya lebih lama menikmati Bandung). Hot. Inilah juga hawa dunia remaja sekarang. Kiamat sudah dekat? Wallahu a’lam. Yang memprihatinkan, budaya remaja yang merajalela sekarang ini bisa diibaratkan seperti sedang berganti kulit dengan mengimpor barat dan dimakan mentah-mentah. (Kalau remajanya orang alim sih pasti sudah muntah-muntah setelah makan (budaya) gituan). Tapi bagaimana remaja yang sudah tak mengenal agamanya? Dan agama hanya dijadikan syarat agar diakui menjadi warga Indonesia. (jadi mikir euy?)
Saya jadi ingat masa remaja dulu, dan sekarang mungkin juga masih ada, kalau kita melihat acara televisi buat para remaja seperti MTV-Music Television- ini pun akrab di kalangan remaja Jogja. Di tengah-tengah gencarnya peran indusri, industri entertainmentlah yang melambung tinggi dan dengan mudahnya disusupi para teknokrat barat dengan liberalisasinya. Tayangan silih berganti dan iklan di sana-sini. Gambaran yang secara gamblang mengajak para penikmatnya untuk terjun mengikuti arus yang dibawanya.
Saya berpikir acara seperti MTV yang bisa dibilang acara khusus kawula muda ini nyata-nyata memberi efek yang besar terhadap kehidupan di era global ini terutama bagi kalangan remaja. Sebagai contoh, MTV Pop Style adalah suatu acara khusus yang menyajikan tontonan mengenai gaya dandan artis-artis dalam dan luar negeri. Dalam acara yang berdurasi kurang lebih 15 menit ini, MTV memberikan kiat dan saran bagaimana agar bisa berdandan ala pesohor (selebritis) ternama. Tak ayal diundang selebritis seperti Missy Elliot, Avril Lavigne, Pink, Oasis, Korn, Rihanna dll yang sedang ngetop. Isinya tentang pembahasan cara mereka dandan, aksesoris yang mereka pakai, nama gaya dandanan mereka, dll. Dan itulah yang malah sering kawula muda tongkrongi dan mereka ambil sebagai budaya yang tak jelas manfaatnya. Pernak pernik seperti kalung, perching, tattoo, dan aneka petingsing lainnya menjadi dikonsumsi remaja. Ini tidak hanya saya lihat di Bandung yang dikenal sebagai Parijs van Java saja tetapi juga di Kesultanan Jogja. Mungkin karena kebebasan yang dijunjungkan, sehingga dijadikan alasan halal bagi mereka. Bak artis luar negeri, life style mereka ditiru habis-habisan.
Masih banyak acara televisi lainnya yang mengajak umat remaja untuk alih budaya seperti planet remaja, berbagai sinetron, dan film. Malahan di beberapa stasiun TV sempat pula menayangkan acara dewasa yang ditayangkan larut malam. Waktu saya SMP teman-teman saya suka ngobrolin tentang tayangan itu. Apalagi yang punya saluran parabola, ceritanya seolah gak masuk akal (langka) tapi nyata. Saya yang rumahnya di kampung otomatis cuma jadi pendengar doang. Bagaimana dengan mereka sekarang? Wah gak kepikir deh sudah seberapa jauh ‘pengetahuan’ mereka terhadap hal-hal yang dianggap tabu ini.
Di kota besar, di tengah senyapnya dunia saat mayoritas manusia pada tidur sebagian remaja berpesta (party, dugem) bersama DJ (disk jockey) dihiasi kemolekan dan erotisnya sexy dancer. Mereka terlelap kebudayaan sesat yang berkutat. Beberapa bulan lalu saat di saya ke Solo, tak jauh dari sebuah kampus, universitas negeri bahkan, tempat dugem pun bebas beroperasi. Jangan heran pula kalangan SMA sederajat pun sering mengadakan acara yang dihiasi sexy dancer itu sendiri, tak kalah dengan iklan spanduk yang mengiklankan even seperti itu di sudut-sudut kota. Naudzubillahi min dzalik. Mungkin, tak terkecuali Jogja ini. Sungguh pesta syahwat di kalangan masa dini telah menggejala.
Bagaimana dengan bacaan? Pernah suatu ketika saya main ke rumah kos teman, secara tak sengaja melihat majalah HA* yang merupakan majalah remaja terkenal. Dan sebagai remaja yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA tentu saya ingin tahu apa sih yang di kupas dan diajarkan oleh majalah itu. Setelah melihat-lihat saya terus ‘tahu’. Pantas moral remaja ini hancur. Okey, sampai sekarang saya akui banyak remaja yang pintar-pintar. Tapi nggak tahu bagaimana moralnya?
Yang dikupas di majalah/tabloid bahkan koran harian ini di antaranya tentang seragam seksi yang dipakai cewek. Yang mana media tersebut mengajak para cewek SMP/SMA untuk memakai seragam seksi dengan segala bujuk rayunya. Dengan alasan biar gaul, seksi dan menarik tentunya. Disitu juga mempublish komentar dari para cowok SMA mengenai seragam seksi cewek. Sama aja cowoknya, semuanya komentarnya menandakan setuju, walaupun (mungkin) ada salah satu yang masih melihat sisi negatifnya. Salah satu alasannya untuk memperindah pemandangan.Dasar nafsu, pikir saya.
Merambat dari masalah semakin melebarnya aurat yang diumbar. Sebagai seorang remaja saya kenal betul budaya yang sedang mengenainya. Tidak jauh-jauh kali ini adalah budaya film biru atau maaf bahasa slangnya adalah bokep. Semasa saya sekolah dulu razia barang terlarang seperti itu di sekolah sering dilakukan. Dan 1-2 orang memang pernah tertangkap basah membawanya (berupa keping VCD). Itu dulu. Nah sekarang sudah seperti apa? Belum lama, suatu kali saya ngonangi remaja yang sedang duduk-duduk di pinggir warung memegang HP-nya. Saya sedang menunggu angkutan waktu itu. Saya perhatikan aktivitasnya. Eh, tak tahunya sedang nyepep (nonton video porno) dari hapenya. Wah, kemajuan dunia kemaksiatan pun bertambah seiring dengan kemajuan teknologi, saudara. Para orang tua perlu ketahui, bahwa video itu gampang ditemukan di warnet, rental CD, ataupun lewat infrared dan bluetooth dari HP. Video/gambar itu gampang sekali tersebar karena para remaja kebanyakan masih labil kepribadiannya. (saya bayangkan lha wong yang ndeso di jogja banyak anak yang punya kok apa lagi di kota?). Bedanya mungkin kalau yang remaja ndeso bentuknya lebih ke kepingan CD yang ditonton secara menggerombol. Maklum yang punya VCD terbatas dan umumnya CD tersebut digilir buat dipinjamkan kepada teman lainnya. Dan hal itu sudah membudaya waktu saya masih SMP. Dan di kota lebih ke media HP yang videonya biasanya dilihat dalam format 3GP. Padahal budaya sepep sangat merusak moral remaja.Video yang vulgar dalam hal hubungan seksual menjadi racun yang serius. Memang awalnya dilihat doang. Tapi justru pendidikan seks yang salah ini yang menyebabkan remaja salah jalan. Sebelum nikah sudah kawin (zina) duluan. Sungguh ter…la….lu.
Jogja. Bagaimanakah kehidupan free sexnya di sana? Iip Wijayanto, seorang peneliti, yang menghasilkan kesimpulan bahwa bahwa kemudian dia menemukan 97,05 persen di antara 1.600 mahasiswi di 16 kampus yang kos di wilayah Jogja Utara mengakui pernah berhubungan seks sebelum menikah (tak perawan). (Wallahu a’lam kevalidannya-pen). Keadaan yang dapat representatif menggambarkan remaja dengan pernak-pernik duniawinya. Faktanya sudah tak asing kalau itu terjadi. Lihat saja di sekeliling kita banyak sekali tempat-tempat yang menjadi nongkrongnya anak muda dengan ikhtilat (campur), berkhalwat (berdua-duaan) bersama lawan jenis sampai larut malam. Dan pulangnya tidak tahu pasangan tersebut menginap dimana atau sewa hotel mana.
Semua itulah yang terjadi di Indonesiaku detik-detik ini, tidak hanya Jogja saja. Remaja yang menjadi tulang punggung bangsa, yang telah diwanti-wanti para pahlawan kusuma bangsa untuk meneruskan kemerdekaan ini terancam oleh virus berbahaya yang berkedok memberikan kebebasan. Dan nenek moyang yang telah mewarisi budaya Indonesia (ketimuran) dan tercelup ajaran akhlaq islam pasti geleng kepala andaikan masih hidup. Sungguh budaya moral yang gagal. Saatnya benar-benar untuk menguatkan dan mengingatkan remaja kita dalam memilih budaya dan mengekspresikan diri. Apa saran, pendapat dan komentar Anda?
Youtube bisa jadi Guru
dari : detikinet Pelajaran Matematika dan Fisika acapkali menjadi momok bagi siswa. Namun, kini para siswa yang kesulitan di pelajaran tersebut dapat minta tolong ke Youtube. Caranya adalah dengan menonton video tutorial di Youtube yang berisi materi Matematika, Fisika, dan Ekonomi. Salman Khan, demikian nama orang yang mengupload video-video tutorial tersebut, telah memposting sekitar 600 video tutorial di Youtube. Meskipun video tutorial ini tidak sepopuler video Bush yang dilempar sepatu di Irak, setidaknya video ini cukup diminati orang yang bermasalah dengan Matematika atau Fisika. Video tersebut telah ditonton sebanyak 50 ribu kali.
Tanggapan siswa juga positif. Dikutip detikINET dari USnews, Selasa (16/12/2008), para siswa bahkan mengaku bahwa video-video tutorial di Youtube tersebut membantu mereka memahami pelajaran Matematika lebih baik daripada guru dan buku-buku pelajaran mereka. Sebenarnya apa kuncinya sehingga video tutorial berdurasi 10 menit ini bisa diterima siswa? Jawabannya adalah karena video ini berfokus pada penjelasan konsep secara sederhana dan mudah dicerna, sehingga user mudah memahami materi.
Kalau gak ngerti bahasa Inggrisnya? Ulangi aja berkali-kali .
Gift From Nature, Maa sya Allah!
Dua Sarjana Dua Masa
Pada akhir abad sepuluh, seorang ilmuwan meninggalkan Basrah, kota kelahirannya untuk memenuhi suatu proyek ambisius di Mesir. Dia diberitahu bagaimana secara musiman sungai Nil membanjiri sebagian besar kawasan delta. Namun, dalam musim dingin permukaan airnya turun sehingga kegiatan pertanian hampir tak mungkin dilakukan. Dia berpikir, seandainya surplus air dapat ditampung dan digunakan saat diperlukan, tentu akan sangat berguna. Dia merancang suatu skema untuk mengatur Nil sehingga penduduknya dapat memanfaatkannya di saat pasang maupun surut. Rencananya itu membutuhkan bangunan 3 jalur bendungan dekat Aswan. Dia mengajukan proposal pada Al Hakim, Khalifah Dinasti Fatimiyah, di Kairo. Sang Khalifah tertarik dan menerima proposalnya, sekaligus memintanya datang ke Kairo dan membangun bendungan itu.
Sang ilmuwan muda menghabiskan berbulan-bulan untuk mempelajari tempatnya. Dia membuat detil cara bagaimana dia akan mewujudkan rencananya, dan konon disebut-sebut, menghabiskan uang yang tidak sedikit dari khalifah. Tetapi, ada sebuah masalah. Teknologi saat itu belum mampu untuk menyelesaikan bagian pembuangan. Akhirnya dia sampai pada kesimpulan yang mengecewakan: andai sungai Nil ini mampu dibendung tentu orang Mesir Kuno sudah melakukannya, padahal mereka mampu membuat piramida. Kini dia menghadapi satu masalah baru: Bagaimana cara menyampaikannya kepada Khalifah? terpaksa dia mengambil cara yang tidak biasa. Dia memutuskan untuk berlaku seolah-olah menjadi gila! Akhirnya, khalifah mengasingkannya ke sebuah rumah kecil dekat Universitas Al Azhar.
Ilmuwan muda itu kemudian dikenal sebagai Ibnu al-Haitsam, dikenal di Barat sebagai AlHazen. Selama dua dekade, saintis yang berpura-pura ‘edan’ ini menghabiskan masa hidupnya dengan membangun dan memperbaiki metoda eksperimental. Dia bekerja dengan cermin bola dan parabola, aberasi bola, derajat perbesaran lensa, dan pembiasan atmosfer. Dia mencatat bagaimana berkas cahaya berasal dari obyek yang dilihat bukan dari mata-seperti yang dipercayai oleh orang Yunani- dan dengan tepat menjelaskan perbesaran ukuran penampakan matahari dan bulan ketika mendekati horison (cakrawala). Dia merumuskan hukum pemantulan dan pembiasan serta mengumumkan bahwa eksperimen dan pengamatan empiris adalah pondasi seluruh kerja sains. Ibnu al Haitsam ini merupakan ahli optik terbesar di jamannya. Selain itu karya-karyanya mencapai 200 buku di bidang astronomi, matematika, fisika dan filsafat.Kitab Al Manazir telah diterjemahkan dalam bahasa Latin di akhir abad 13 sebagai Buku Optik merupakan kumpulan yang lwngkap tentang subyek optik yang mempengaruhi Roger Bacon, Johanes Keppler, dan mendominasi kajian sains di Barat.
Seribu tahun kemudian, saat teknologi akhirnya memungkinkan pembangunan bendungan Aswan terwujud, seorang ilmuwan muslim lain meninggalkan kotanya, Lahore, untuk mewujudkan rencana-rencana ilmiahnya.Segera sesudah meraih PhD-nya dari Cambridge, dia ingin membangun kelompok penelitian bidang Fisika Teoritis di Universitas Punjab dimana dia mengajar Matematika. Tapi, mimpinya tinggallah mimpi. Tak ada dukungan dari institusi, tak ada tradisi kerja ilmiah para sarjana, tak ada kolega tempat berkonsultasi, tak ada jurnal, tak ada dana untuk menghadiri konferensi. Fisikawan terdekat hanya ada di Bombay- saat itu sudah menjadi kota di negara tetangga. Singkat kata, pimpinan institusinya menyarankannya untuk melupakan Fisika, dan memberinya pilihan pekerjaan : sebagai bendahara institut, pengawas gedung, atau presiden klub sepakbola. Dia memilih klub sepakbola! Kemudian, dia sempat menulis dilema tragis yang dihadapinya. Pilih Fisika atau Pakistan? Akhirnya dengan berat hati, dia meninggalkan Pakistan dan kembali ke Cambridge.
Nama pemuda itu adalah Abdus Salam. Semangatnya di bidang Fisika membimbingnya meneliti simetri partikel, teori gauge dan dua komponen teori neutrino. Karena hasil kerjanya pada teori penyatuan gaya lemah dan interaksi elektromagnetik antar partikel-partikel dasar, dia mendapatkan hadiah Nobel bidang Fisika bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow tahun 1979.
Jaman Abdus Salam dan Al Haitsam bisa jadi tidak sama. Al Haitsam ada di peradaban yang menghargai hasil karya sains, Salam merupakan produk dari masyarakat dimana sains absen secara mencolok. Apa yang terjadi dalam seribu tahun yang membuat keduanya berbeda cukup membuat perbincangan bahkan dapat menjadi renungan. Keduanya sama-sama berpegang pada Al Quran. Tetapi, secara jamaah mereka di masa yang berbeda dalam mengikuti anjuran Quran. Bukankah kita diseru dengan iqra untuk belajar dan berilmu?dengan ilmulah diperoleh dunia dan akhirat. Tetapi di jaman ini umat Islam mengabaikan ilmu. Akibatnya tertinggal di dunia, dan (semoga) tidak sampai urusan akhiratnya juga.
Nyoba slideshare
Islamisasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Adi Junjunan Mustafa, MSc
tempat manusia mengecil
tak sanggup memberi ruang
tuk tumbuh pencakar-pencakar langit
tapi jiwa-jiwa manusia
tambah berkeluh kesah
1. Pengantar
Berkat ilmu pengetahuan dan teknologi, kini jarak tidak lagi menjadi masalah yang berarti dalam dimensi hidup manusia. Dunia menjadi kecil. Siapapun bisa saling bercerita panjang lebar dari dua sisi dunia yang berbeda. Semua pekerjaan rutin bisa diselesaikan dengan cepat. Tapi ternyata itu tak membuat manusia mengaku lebih bahagia. Manusia menjadi miskin terhadap perasaan kemanusiaannya sendiri. Di manakah sumber masalahnya? Manusianya? Ipteknya?
KAMMI-JP, 22 Juni 2003, dipandu Bp. Adi Junjunan, Msc (Direktur ISTECS 2002-2004, red) mengadakan sebuah bincang-bincang kecil seputar sikap Islam terhadap perkembangan iptek dewasa ini.
Sains adalah sarana pemecahan masalah mendasar setiap peradaban. Ia adalah ungkapan fisik dari world view di mana dia dilahirkan.
Maka kita bisa memahami mengapa di Jepang ¬yang kabarnya sangat menghargai nilai waktu demikian pesat berkembang budaya “pachinko” dan game. Tentu disebabkan mereka tak beriman akan kehidupan setelah mati, dan tak mempunyai batasan tentang hiburan.
Kini ummat Islam hanya sebagai konsumen sains yang ada sekarang. Kalaupun mereka ikut berperan di dalamnya, maka ¬– secara umum — mereka tetap di bawah kendali pencetus sains tersebut. Ilmuwan-ilmuwan muslim masih sulit menghasilkan teknologi-teknologi ¬eksak — apalagi non-eksak — untuk menopang kepentingan khusus ummat Islam.
Dunia Islam mulai bangkit (kembali) memikirkan kedudukan sains dalam Islam pada dekade 70-an. Pada 1976 dilangsungkan seminar internasional pendidikan Islam di Jedah. Dan semakin ramai diseminarkan di tahun 80-an.
2. Empat pendekatan
Secara umum, dikenal 4 kategori pendekatan sains Islam:
2.1 I’jazul Qur’an.
I’jazul Qur’an dipelopori Maurice Bucaille yang sempat “boom” dengan bukunya “La Bible, le Coran et la Science” (edisi Indonesia: “Bibel, Qur’an dan Sains Modern“).
Pendekatannya adalah mencari kesesuaian penemuan ilmiah dengan ayat Qur’an. Hal ini kemudian banyak dikritik, lantaran penemuan ilmiah tidak dapat dijamin tidak akan mengalami perubahan di masa depan. Menganggap Qur’an sesuai dengan sesuatu yang masih bisa berubah berarti menganggap Qur’an juga bisa berubah.
2.2 Islamization Disciplines.
Yakni membandingkan sains modern dan khazanah Islam, untuk kemudian melahirkan text-book orisinil dari ilmuwan muslim. Penggagas utamanya Ismail Raji al-Faruqi, dalam bukunya yang terkenal, Islamization of Knowledge, 1982.
Ide Al-Faruqi ini mendapat dukungan yang besar sekali dan dialah yang mendorong pendirian International Institute of Islamic Thought (IIIT) di Washington (1981), yang merupakan lembaga yang aktif menggulirkan program seputar Islamisasi pengetahuan.
Rencana Islamisasi pengetahuan al-Faruqi bertujuan:
1. Penguasaan disiplin ilmu modern.
2. Penguaasaan warisan Islam.
3. Penentuan relevansi khusus Islam bagi setiap bidang pengetahuan modern.
4. Pencarian cara-cara untuk menciptakan perpaduan kreatif antara warisan Islam dan pengetahuan modern (melalui survey masalah umat Islam dan umat manusia seluruhnya).
5. Pengarahan pemikiran Islam ke jalan yang menuntunnya menuju pemenuhan pola Ilahiyah dari Allah.
6. Realisasi praktis islamisasi pengetahuan melalui: penulisan kembali disiplin ilmu modern ke dalam kerangka Islam dan menyebarkan pengetahuan Islam.
2.3 Membangun sains pada pemerintahan Islami.
Ide ini terutama pada proses pemanfaatan sains. “Dalam lingkungan Islam pastilah sains tunduk pada tujuan mulia.” Ilmuwan Pakistan, Z.A. Hasymi, memasukkan Abdus Salam dan Habibie pada kelompok ini.
2.4 Menggali epistimologi1 sains Islam (murni).
Epistimologi sains Islam murni digali dari pandangan dunia dunia Islam, dan dari sinilah dibangun teknologi dan peradaban Islam. Dipelopori oleh Ziauddin Sardar, dalam bukunya: “Islamic Futures: “The Shape of Ideas to Come”” (1985), edisi Indonesia: “Masa Depan Islam, Pustaka, 1987).
Sardar mengkritik ide Al-Faruqi dengan pemikiran:
1. Karena sains dan teknologilah yang menjaga struktur sosial, ekonomi dan politik yang menguasai dunia.
2. Tidak ada kegiatan manusia yang dibagi-bagi dalam kotak-kotak: “psikologi”, “sosiologi”, dan ilmu politik.
3. Menerima bagian-bagian disipliner pengetahuan yang dilahirkan dari epistimologi Barat berarti menganggap pandangan dunia Islam lebih rendah daripada peradaban Barat.
1Epistimologi: teori pengetahuan, titik dari setiap pandangan dunia. Pokok pertanyaannya: “Apa yang dapat diketahui dan bagaimana kita mengetahuinya”.
3. Sepuluh Konsep
Penemuan kembali sifat dan gaya sains Islam di zaman sekarang merupakan salah satu tantangan paling menarik dan penting, karena kemunculan peradaban muslim yang mandiri di masa akan datang tergantung pada cara masyarakat muslim masa kini menangani hal ini.
Dalam seminar tentang “Pengetahuan dan Nilai-Nilai” di Stocholm, 1981, dengan bantuan International Federation of Institutes of Advance Study (IFIAS), dikemukakan 10 konsep Islam yang diharapkan dapat dipakai dalam meneliti sains modern dalam rangka membentuk cita-cita Muslim. Kesepuluh konsep ini adalah:
Paradigma Dasar:
(1) tauhid — meyakini hanya ada 1 Tuhan, dan kebenaran itu dari-Nya.
(2) khilafah — kami berada di bumi sebagai wakil Allah — segalanya sesuai keinginan-Nya.
(3)`ibadah (pemujaan) — keseluruhan hidup manusia harus selaras dengan ridha Allah, tidak serupa kaum Syu’aib yang memelopori akar sekularisme: “Apa hubungan sholat dan berat timbangan (dalam dagang)”.
Sarana:
(4) `ilm — tidak menghentikan pencarian ilmu untuk hal-hal yang bersifat material, tapi juga metafisme, semisal diuraikan Yusuf Qardhawi dalam “Sunnah dan Ilmu Pengetahuan”.
Penuntun:
(5) halal (diizinkan).
(6)`adl (keadilan) — semua sains bisa berpijak pada nilai ini: janganlah kebencian kamu terhadap suatu kaum membuat-mu berlaku tidak adil. (Q.S. Al-Maidah 5 : 8). Keadilan yang menebarkan rahmatan lil alamin, termasuk kepada hewan, misalnya: menajamkan pisau sembelihan.
(7) istishlah (kepentingan umum).
Pembatas:
(8) haram (dilarang).
(9) zhulm (melampaui batas).
(10) dziya’ (pemborosan) — “Janganlah boros, meskipun berwudhu dengan air laut”.
4. Tatanan Praktis
Dalam membangun dan mengejar perbaikan iptek dunia Islam, Sardar mengajukan 2 pemikiran dasar:
1. Menganalisa kebutuhan sosial masyarakat muslim sendiri, dan dari sinilah dirancang teknologi yang sesuai.
2. Teknologi ini dikembangkan dalam kerangka pandangan-dunia muslim.
Kenyataannya, sangat tidak mudah bekerja di luar paradigma yang dominan, lantaran kita masih terikat dan terdikte dengan disiplin-disiplin ilmu yang dicetuskan dari, oleh dan untuk Barat.
Namun paling tidak ada dua agenda praktis yang dapat dijadikan landasan: jangka pendek: membekali ilmuwan Islam dengan syakhshiyah Islamiyah, dan jangka panjang: perumusan kurikulum pendidikan Islam yang holistik.
Program perumusan kurikulum pendidikan Islam ini sudah mulai terlihat bentuknya di Indonesia, dengan lahirnya banyak sekolah sekolah Islam. Secara umum garis besarnya berlandaskan: SD: habitual; SMP: habitual dengan konsep; SMU: habitual dengan konsep dan ideologi. Diharapkan, anak anak yang dididik di sini, pasa saat memasuki universitas, sudah siap bertarung secara ideologi.
– *** –
Artikel ini pernah dimuat di Warta Sains Dan Teknologi “DIMENSI” vol. 5 no. 2 edisi Juni 2003 hal. 39 (dalam format file PDF) terbitan ISTECS Japan.
Artikel telah melewati pengeditan seperlunya tanpa merubah maksud.
Undang-Undang tentang pornografi. Maju, Jalan!
Setelah sekian lama terjadi penggodokan, akhirnya keluar juga UU RI tentang Pornografi. Saya menyambut, alhamdulillah. Walaupun UU produk manusia ini diproses dengan ‘panas’ untuk melunakkan ‘kealotan’ para pendukung pornografi, selangkah ke arah kemjuan telah dicapai. But, jangan gembira dulu. UU selalu hanya bersifat formalitas saja jika tidak ada keinginan secara integral seluruh komponen bengsa ini untuk menjalankannya. Read more…