Skip to content

Anda, Saya, dan Matematika

Oktober 27, 2008

(sekedar catatan seorang guru,download )

Tidak terasa sudah sekian semester saya berkutat dengan kegiatan pembelajaran matematika di SMP Luqman Al Hakim ini. Ada banyak hal yang semakin menambah pengalaman saya terhadap pembelajaran subyek matematika ini. Ternyata saya merasakan belajar matematika cukup berbeda dengan mengajarkan matematika. Apa saja perbedaannya?
Pertama, di waktu saya belajar matematika, kondisi start saya adalah nol artinya belum tahu apa-apa, sedangkan saat saya mengajarkan pikiran saya sudah dipenuhi oleh banyak hal, penuh muatan yang enak maupun tidak enak, dan harus siap dikeluarkan.
Kedua, saat saya belajar posisi saya adalah pencari informasi sedangkan pada saat mengajar sekarang posisi saya adalah pemberi informasi sekaligus masih terus mencari informasi agar saya tidak kehabisan stok.
Ketiga, sebagai siswa saya harus punya kemampuan menyerap ilmu, sebagai guru saya harus punya kemampuan mentransfer dan menanamkan ilmu. Ini membutuhkan kemampuan menyerap ilmu baru di luar matematika.
Keempat, saat menjadi murid penguasaan matematika adalah kepentingan/kebutuhan diri saya sendiri, saat saya menjadi guru matematika itu menjadi kepentingan/kebutuhan orang lain (siswa-siswa saya) dan hanya sedikit mungkin masih kepentingan saya.
Secara umum posisi kita kok lebih seperti berlawanan. Berawal dari sini saya mencoba untuk berbagi rasa dengan Anda (khususnya murid saya), dengan harapan tulisan ini mampu menjembatani perbedaan tersebut. Di sini saya membatasi pada bidang matematika saja.

Kapan dan bagaimana saya kenal matematika?
Saya berpikir, mungkin saat orang tua saya mengajari bicara, memperkenalkan nama-nama benda dan istilah. Artinya saat ayah atau ibu memperkenalkan bahasa sebagai alat komunikasi atau suatu cara menyebutkan sesuatu di masa-masa usia bermain. Saya menjadi teringat lagu favorit anak-anak: “ catu-catu, atu cayang ibu; ua-ua juga cayang ayah; …dan seterusnya. Bukankah secara tidak langsung di sana ortu saya mengajari matematika? Mungkin pengalaman ini juga sama-sama dipunyai oleh semua orang di sini. Hanya, kini lagunya sudah naik level karena sering saya dengar menjadi : satu –satu aku sayang Allah, dua-dua cinta Rasulullah….dst. Coba simak juga lagu Balonku: balonku ada lima,…, meletus balon hijau, duerrr,…., balonku tinggal empat,…. dst. Lagu ini begitu lekat dengan kita. Kita senang dengan lagu itu walaupun mungkin kita tidak sadar apa saja isinya, termasuk di situ ada unsur pembelajaran matematikanya. Karena kondisi kita masih kosong dengan mudahnya dimasuki ilmu pengetahuan, ajaran ataupun ujaran. Bahkan kalau ada yang mau teliti, pengenalan matematika dengan cara begitu cukup sukses. Barangkali hanya anak yang terlalu kreatif saja yang menyanyikan lagu Balonku tadi, di tutup dengan …balonku tinggal tiga…..(yang jelas akan diprotes temannya karena dari lima meletus satu kok tinggal tiga?). Dan saya pikir orang tua kita menggunakan cara yang biasa dipakai orang secara umum untuk melatih anak-anaknya, tidak pakai banyak teori mengajar, metode, dan kurikulum. Lakukan saja!
Dunia sekolah memang sengaja dirancang untuk menanamkan ilmu pengetahuan, oleh karena itu dilengkapi dengan metode, fasilitas, dan kurikulum. Banyak hal positif yang telah dicapai, diantaranya adalah anak menjadi terdidik secara massal dan terstandarisasi kemampuan baca, tulis, hitung sebagai dasar kecakapan hidupnya. Di sisi lain, problema yang timbul di jaman ini adalah kesulitan belajar dengan model kelas ala sekolahan. Tidak semua siswa menjadi nyaman, happy, dengan pelajaran di kelas. Yang mulanya nol, tidak tahu, setelah bertahun-tahun pun tidak bergeming, tetap tidak tahu, kalau ditanya jawabnya nggak tahu. Kalau begitu belajarkah dia? Mengapa seperti itu? Terlalu dini kalau di jawab: “ Takdir, Pak!” Saya pikir guru-guru sudah menerapkan metode, dan kurikulum yang terencana tadi. Tapi benarkah? Sebagai salah satu pengajar matematika, dan mungkin ini dialami ribuan guru matematika lainnya, saya sering mendengar kalau matematika adalah pelajaran kelas berat. Tidak seperti pelajaran bahasa, atau sosial.

Laman: 1 2

2 Komentar leave one →
  1. hazna permalink
    Oktober 31, 2008 1:24 pm

    assalamualaikum_salam kenal,
    subhanallah….ternyata selama ini kita hanya belajar bukan sebagai pembelajar, dari tulisan anda saya tersadarkan dan termotivasi karena saya adalah seorang calon pendidik,insyaallah akan saya dedikasikan apa yang saya mampu.

  2. November 2, 2008 12:23 pm

    wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakatuhu

    syukran.Semoga ilmu kita membawa kepada kemaslahatan dalam rangka Cintai Tuhan dan sesama makhluq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: