Skip to content

Muslim Ramah, Rahmat bagi Lingkungan

Oktober 29, 2008

Oleh Rahmi Andri Wijonarko

Bencana yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan semakin sering dan terus meluas. Kejadiannya rutin tiap hari bahkan sebagian kita mengalami langsung. Manusia semakin kewalahan, belum lagi deraan permasalahan mencari penghidupan tak kunjung terselesaikan, maka lengkaplah ketidakberdayaannya. Diantara korban banjir, tanah longsor, angin puting beliung, polusi asap, semburan lumpur, flu burung sebagian besar umat islam termasuk di dalamnya dan sangat merasakan dampak negatif yang luar biasa. Bagaimana sebenarnya sikap seorang muslim dalam permasalahan lingkungan ini?
Menurut Dr Adi Setia, Asisten Profesor Sejarah dan Filsafat Sains Universitas Islam Internasional Malaysia dalam Jurnal Islam & Science Vol 5. No 2 disebutkan bahwa interaksi seorang muslim dengan alam, ternyata dibatasi dan diarahkan oleh suatu ajaran etika yang fundamental yaitu rahmah (kasih sayang), mizan/tawazun (keseimbangan, kesetimbangan, harmonis, pengendalian diri), dan syukur (rasa terima kasih, penghargaan). Ajaran Islam ini jika secara sistematis diyakini, dipahami dan diterapkan, maka akan menghasilkan kelestarian ekologis (ecological health). Namun, ajaran etis pada akhirnya tetap menunjuk kepada sifat manusia itu sendiri (tabi’at al-nafs) sehingga kesehatan ekologis berakar pada kesehatan psikologis diri manusianya. Dilihat dari tingkat perspektif yang mendalam ini, maka masalah sumberdaya pada kasus degradasi lingkungan akhir-akhir ini akan menjadi jauh lebih kecil dibanding masalah sikap (attitude). Persoalan sikap ini adalah hasil kegagalan umum ego manusia (nafsu) yang tidak bisa membendung pemenuhan kepuasan sesaat dan mengorbankan kemakmuran jangka panjang. Allah SWT telah mengingatkan: Sekali-kali janganlah demikian, sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia (QS 75: 20)., tetapi hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) seperti dalam QS 59:18.
Pendekatan sisi kejiwaan terhadap ekologi (psiko-ekologis) telah dimiliki dan ada dalam peradaban Islam sebelumnya. Ini adalah satu jawaban Islam yang dapat kita angkat kembali, diartikulasikan dan diterapkan ulang dalam kehidupan dunia sekarang secara sistemik lewat organisasi komunal, sekolah, pesantren, harakah sampai ke level pemerintahan (sosio politik).
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati “(QS 25:63).
Kesombongan dan ketamakan adalah sikap yang dilarang bagi orang yang meyakini Al Quran. Sikap ini juga menjadi bentuk nyata penghargaan dan kepedulian pada dunia yang merupakan tempat singgah sementara. Muslim yang berpikir, dia tidak akan ikut-ikutan atau membiarkankan perilaku eksploitatif terus terjadi. Muslim harus kembali membumikan nilai otentik ajaran Islam yaitu menegakkan etos rahmat bagi lingkungan. Imam Fakhr al-Din ar Razi (w.1209) menyatakan bahwa etos ini diilhami oleh kualitas spiritual religius dan kualitas moral etis yaitu kelembutan, kehalusan, ketenangan yang digabung dengan ketawadhu’an dan ketabahan. Wujudnya adalah berupa orang-orang yang tidak takabur dan arogan, atau mereka yang tidak mencari kebutuhan dengan merusak alam (air, tanah, udara), dan bukan orang-orang yang mencari dominasi dengan mengesankan diri mereka berada di atas yang lain (superior), padahal justru dari merekalah timbul masalah. Tentu kita melihat dunia sekarang ini jelas ada pihak-pihak yang mendominasi seolah bumi ini milik mereka, padahal Allah SWT lah Penguasa alam semesta ini.
Seorang muslim yang benar akan melengkapi sikap tersebut dengan perdamaian kepada orang, masyarakat, komunitas, dan budaya lain, di mana bila kejahiliyahan mengusiknya, mereka merespon dengan mengemukakan jalan keselamatan (qaalu salaman). Mereka menghindari hal-hal bodoh yang berpotensi membawa kepada kesombongan dan menurunkan martabatnya. Malam-malam mereka terisi dengan berdiri dan sujud, bersepi-sepi dalam ibadah kepada Allah Swt. Dalam apa yang mereka keluarkan mereka tidak royal (dihambur-hamburkan) atau terlalu kikir, tetapi berada di tengah kedua ekstrim ini (seimbang). Jadi, kualitas kerendah-hatian pada alam, damai pada manusia lain, pertengahan dalam konsumsi, dan dedikasi kepada Rabb segala sesuatu, terintegrasi dalam kepribadian muslim yang harmonis dan utuh.
Bila kita renungi lagi ayat-ayat Quran, lalu kita lihat dunia kita sekarang, akan tampak beberapa sikap yang telah menyimpang dari sikap Qurani, diantaranya:
(i) pembangunan ekonomi modern dengan dukungan iptek telah mengorbankan alam untuk kemajuan materiil, sedangkan dalam Quran kita dibimbing tidak tergoda oleh bermegah-megahan, menumpuk-numpuk materi dan menghitung-hitungya (QS 102:1; 104:2).
(ii) ekonomi ‘liberal’ memaksakan cara-caranya secara langsung ataupun secara licik pada komunitas yang memilih keyakinan (Islam) yang ada pada tradisi mereka, sehingga mengusik kedamaian masyarakat dan pandangan hidup (aqidah) mereka. Bukankah seharusnya tidak ada paksaan dalam pandangan hidup?(QS 109:6; 2:256)
(iii) akumulasi kemakmuran ekonomi yang diperoleh malah menjadi umpan bagi kaum muslimin untuk mencandu bentuk-bentuk olahraga, hiburan, dan kesenangan-kesenangan baru yang bisa merendahkan martabatnya. Bukankah kaum muslimin diajarkan untuk menghindari perbuatan dan perkataan tak berguna?(QS 23:3).
(iv) malam-malam orang yang mengaku muslim terisi dendang tarian memabukkan di kelab malam, dengan omong kosong di warung/kafe atau begadang semalam suntuk di depan TV dan komputer. Padahal, Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat (QS 25:47)
(v) perkembangan retorika pemikiran lewat tulisan dan lisan mengobok-obok nilai-nilai Islam dan menjauhkannya dari kaum muslimin melalui paham sekulernya dengan alasan untuk pertumbuhan, kemajuan dan kehidupan yang lebih baik. Allah telah mengingatkan: dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada Akulah kamu harus bertakwa(QS 2: 41)
(vi) efisiensi tekno-ekonomi ala barat ternyata terarah menuju monokulturisasi baik mental maupun pemandangan fisik dan keseragaman global. Dalam Quran telah disebutkan bahwa keberagaman adalah tanda-tanda kekuasaan Allah (QS 30 :22)

Solusi Islam: Etika proaktif

Kalau kita lihat, solusi etis model barat yang sekuler cenderung reaktif, dari luar diri manusianya, karena penekanan mereka pada teknik dan sumber daya daripada nilai-nilai. Barat selalu bergerak bila ada permasalahan, karena memang cara pandang mereka adalah sekuler dan utilitarian. Kalau tidak karena pemanasan global, tentu tak akan ada Protokol Tokyo tentang perubahan iklim. Jika tak ada peringatan dari Club of Rome’s bahwa alam menjadi pembatas bagi pertumbuhan ekonomi, tentu tidak muncul pikiran ekonomi yang tunak (steady state) atau pertumbuhan nol, dimana kondisi ideal bukanlah diukur dari akumulasi kemakmuran material/pendapatan, tetapi juga realisasi potensi intektual, moral dan spiritual manusia. Akhir-akhir ini Barat mengusung ekokapitalisme baru seperti adanya carbon trading, kapitalisme lama yang dipersenjatai dan di’hijau’kan dengan ekonomi yang pro-lingkungan atau green accountancy. Yakinkah kita umat Islam, bahwa yang mereka sebut-sebut hijau itu suatu saat nanti tidak akan menjadi taring dan cakar merah?
Menghadapi kondisi realitas dunia seperti itu kaum muslimin harus kembali kepada Qur an dan Sunnah. Dalam hubungan sehari hari dengan lingkungan alam dan sosial, melalui Qur an dan sunnah kaum muslimin diperintahkan untuk memelihara kebersihan, konsumsi yang sewajarnya, bermurah hati, timbang rasa, lembut, mencegah timbulnya barang tak berguna (mubazir), dan mencegah kerugian (kerusakan). Hal ini telah diserukan jauh-jauh hari sebelum adanya polusi, kelangkaan sumber daya alam, degradasi lingkungan dan masalah semacam pemanasan global yang mengusik peradaban manusia saat ini. Bumi dipandang sebagai masjid, sehingga etika yang diterapkan di masjid diberlakukan juga terhadap bumi ini. Jagad raya termasuk bumi dibaca sebagai ayat-ayat Allah, seperti ayat-ayat yang di wahyukan (Quran) sehingga mempelajari keduanya sama-sama penting. Dimensi intrinsik, nilai-nilai moral dan etis Islam dipandang lebih penting, artinya muslim mesti bersikap proaktif, memulai dari dalam dirinya, tidak menunggu datangnya masalah. Seruan moral dan etis yang umum dalam ajaran islam ini bukan melulu sesuatu yang abstrak yang terasa baik dalam benak untuk meringankan sentimen, tetapi memang harus diyakini dalam hati, dipahami pikiran, dan terungkap dalam aksi nyata di lapangan. Karenanya, mendakwahkan etika terhadap lingkungan yang Islami perlu masuk dalam agenda kegiatan dakwah. Model ekopesantren, produk makanan alami dengan pembungkus yang biodegradable perlu dikembangkan. Umat Islam yang ramah lingkungan akan menjadi penebar rahmat bagi alam. Wallahu a’lam.

4 Komentar leave one →
  1. Oktober 30, 2008 12:54 pm

    wah, tambah keren aja pak, blognya…
    PRnya udah 3, lho!?! PR ku aja paru satu, hiks, hiks, hiks…
    emang gimana sih, cara bikin PR jadi tinggi?

  2. Oktober 30, 2008 1:20 pm

    Soal pagerank saya blum bisa jawab. Buat aja artikel yang sering dan banyak! Sekali upload 10 postingan, dan artikel yang panjang and lebar sehingga pencarian kata-nya mudah. begitu kali ya? atau belajar aja software SEO (search engine optimation).

  3. Oktober 31, 2008 10:54 am

    maksudnya ‘sekali upload 10 postingan’ itu apa? pak, bukannya SEO dan PR itu beda, ya?
    tanya lagi, ya pak? habisnya blognya tambah keren aja…
    gimana cara merubah tulisna ‘more’ atau ‘lagi’ jadi ‘silahkan baca lebih lanjut’ atau kata lain sesuka hati? trus juga gimana cara nggedein hurufnya?
    thanks b4

    menurut saya semakin kamu banyak bikin link ke site/blog dengan PR tinggi, PR mu juga naik. Misal gini, kalo kamu bisa di link dengan 1 blog yang PR nya 6 akan lebih baik daripada di link sama 12 blog dengan PR 1 bahkan 0.

    saran saya, pelajari HTML code (saya juga lagi belajar, dulu belajar tapi bayak gak kepake trus pada lupa….)
    semoga mambantu

  4. November 3, 2008 3:50 am

    Assalamualaykum..
    artikelnya bagus…
    muslim memang harus ramah…

    Wa’alaikum salam warahmatullahi wa barakatuhu.
    syukran. mari kita hapus pandangan barat- yang hanya berdasar mitos leluhur mereka-terhadap Islam. Islam yang menurut hembusan mitos mereka adalah suatu ajaran yang kejam, pengikut kegelapan (syetan), menganiaya perempuan, dsb, kita luruskan dengan kedamaian dan keselamatan dunia sampai akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: