Skip to content

Dua Sarjana Dua Masa

November 26, 2008

Pada akhir abad sepuluh, seorang ilmuwan meninggalkan Basrah, kota kelahirannya untuk memenuhi suatu proyek ambisius di Mesir. Dia diberitahu bagaimana secara musiman sungai Nil membanjiri sebagian besar kawasan delta. Namun, dalam musim dingin permukaan airnya turun sehingga kegiatan pertanian hampir tak mungkin dilakukan. Dia berpikir, seandainya surplus air dapat ditampung dan digunakan saat diperlukan, tentu akan sangat berguna. Dia merancang suatu skema untuk mengatur Nil sehingga penduduknya dapat memanfaatkannya di saat pasang maupun surut. Rencananya itu membutuhkan bangunan 3 jalur bendungan dekat Aswan. Dia mengajukan proposal pada Al Hakim, Khalifah Dinasti Fatimiyah, di Kairo. Sang Khalifah tertarik dan menerima proposalnya, sekaligus memintanya datang ke Kairo dan membangun bendungan itu.

Sang ilmuwan muda menghabiskan berbulan-bulan untuk mempelajari tempatnya. Dia membuat detil cara bagaimana dia akan mewujudkan rencananya, dan konon disebut-sebut, menghabiskan uang yang tidak sedikit dari khalifah. Tetapi, ada sebuah masalah. Teknologi saat itu belum mampu untuk menyelesaikan bagian pembuangan. Akhirnya dia sampai pada kesimpulan yang mengecewakan: andai sungai Nil ini mampu dibendung tentu orang Mesir Kuno sudah melakukannya, padahal mereka mampu membuat piramida. Kini dia menghadapi satu masalah baru: Bagaimana cara menyampaikannya kepada Khalifah? terpaksa dia mengambil cara yang tidak biasa. Dia memutuskan untuk berlaku seolah-olah menjadi gila! Akhirnya, khalifah mengasingkannya ke sebuah rumah kecil dekat Universitas Al Azhar.

Ilmuwan muda itu kemudian dikenal sebagai Ibnu al-Haitsam, dikenal di Barat sebagai AlHazen. Selama dua dekade, saintis yang berpura-pura ‘edan’ ini menghabiskan masa hidupnya dengan membangun dan memperbaiki metoda eksperimental. Dia bekerja dengan cermin bola dan parabola, aberasi bola, derajat perbesaran lensa, dan pembiasan atmosfer. Dia mencatat bagaimana berkas cahaya berasal dari obyek yang dilihat bukan dari mata-seperti yang dipercayai oleh orang Yunani- dan dengan tepat menjelaskan perbesaran ukuran penampakan matahari dan bulan ketika mendekati horison (cakrawala). Dia merumuskan hukum pemantulan dan pembiasan serta mengumumkan bahwa eksperimen dan pengamatan empiris adalah pondasi seluruh kerja sains. Ibnu al Haitsam ini merupakan ahli optik terbesar di jamannya. Selain itu karya-karyanya mencapai 200 buku di bidang astronomi, matematika, fisika dan filsafat.Kitab Al Manazir telah diterjemahkan dalam bahasa Latin di akhir abad 13 sebagai Buku Optik merupakan kumpulan yang lwngkap tentang subyek optik yang mempengaruhi Roger Bacon, Johanes Keppler, dan mendominasi kajian sains di Barat.

Seribu tahun kemudian, saat teknologi akhirnya memungkinkan pembangunan bendungan Aswan terwujud, seorang ilmuwan muslim lain meninggalkan kotanya, Lahore, untuk mewujudkan rencana-rencana ilmiahnya.Segera sesudah meraih PhD-nya dari Cambridge, dia ingin membangun kelompok penelitian bidang Fisika Teoritis di Universitas Punjab dimana dia mengajar Matematika. Tapi, mimpinya tinggallah mimpi. Tak ada dukungan dari institusi, tak ada tradisi kerja ilmiah para sarjana, tak ada kolega tempat berkonsultasi, tak ada jurnal, tak ada dana untuk menghadiri konferensi. Fisikawan terdekat hanya ada di Bombay- saat itu sudah menjadi kota di negara tetangga. Singkat kata, pimpinan institusinya menyarankannya untuk melupakan Fisika, dan memberinya pilihan pekerjaan : sebagai bendahara institut, pengawas gedung, atau presiden klub sepakbola. Dia memilih klub sepakbola! Kemudian, dia sempat menulis dilema tragis yang dihadapinya. Pilih Fisika atau Pakistan? Akhirnya dengan berat hati, dia meninggalkan Pakistan dan kembali ke Cambridge.

Nama pemuda itu adalah Abdus Salam. Semangatnya di bidang Fisika membimbingnya meneliti simetri partikel, teori gauge dan dua komponen teori neutrino. Karena hasil kerjanya pada teori penyatuan gaya lemah dan interaksi elektromagnetik antar partikel-partikel dasar, dia mendapatkan hadiah Nobel bidang Fisika bersama Steven Weinberg dan Sheldon Glashow tahun 1979.

Jaman Abdus Salam dan Al Haitsam bisa jadi tidak sama. Al Haitsam ada di peradaban yang menghargai hasil karya sains, Salam merupakan produk dari masyarakat dimana sains absen secara mencolok. Apa yang terjadi dalam seribu tahun yang membuat keduanya berbeda cukup membuat perbincangan bahkan dapat menjadi renungan. Keduanya sama-sama berpegang pada Al Quran. Tetapi, secara jamaah mereka di masa yang berbeda dalam mengikuti anjuran Quran. Bukankah kita diseru dengan iqra untuk belajar dan berilmu?dengan ilmulah diperoleh dunia dan akhirat. Tetapi di jaman ini umat Islam mengabaikan ilmu. Akibatnya tertinggal di dunia, dan (semoga) tidak sampai urusan akhiratnya juga.

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: