Skip to content

Jalan ke Jogja, Jalan-jalan ke Masa Remaja

Februari 23, 2009

Rabu sore, (18/02), kami (me and my wife), menyempatkan berjalan-jalan ke Jog-Yes ( Malioboro). Cukup lama saya tidak merasakan suasana sore di kota gudheg ini. Masih ingat, paling-paling seringnya dulu saya jalan ke sana sama teman-teman cowok. Bedanya sekarang sudah jalan sama istri (:-)). Tentu selalu ada perubahan fisik yang terjadi, namun suasananya bagi saya tidak banyak berubah. Pengamen kreatif (seniman, mahasiswa) bisa berganti orang karena mereka sudah tidak di Jogja lagi tetapi toh tetap ada pengamen. Para pedagang pinggir jalan pun masih setia berjualan produk kreatif para pengrajin meski mal dan produk industri massal membanjiri. (hmm…kayak di lagunya KLA Project). Baliho Jogja never ending asia juga tampak terpampang di banyak tempat menawarkan promosi wisata.
Tulisan ini tidak menceritakan indahnya Jogja, tetapi sebuah pengamatan perubahan yang terasa dan mengusik hati penulis saat berkeliling di Jogja, terutama mengingatkan masa single dulu.

Kota Jogja, dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, otomatis adalah kotanya para remaja. Mereka yang dari rumah, meninggalkan ortu dan kampung halamannya di seluruh penjuru Indonesia, berniat menuntut ilmu akhirnya berkumpul di Jogja. Rumah saya cuma 1 jam perjalanan dari kota Jogja, meski saya tidak pernah menetap lebih dari tiga bulan di kota ini, saya cukup familier dengan Jogja. Karena sering ke tempat teman-teman sekolah, dari cerita mereka dan yang saya saksikan sendiri, remaja Jogja tidak beda dengan remaja kota metropolis lainnya. Ekspresi seni mereka dikaitkan dengan life style-sesuatu yang indah yang bisa di sapa seni tersebut sangat identik dengan budaya. Dimana ada seni lahirlah budaya. Satu yang saya lihat sangat memprihatinkan saat ini adalah banyak pihak yang kurang mengingatkan para remaja supaya hati-hati dalam mengekspresikan seni dan mengambil budaya.

Kalau siang Jogja masih terasa panas. Meski tak sepanas Surabaya.(Barangkali karena saya lebih lama menikmati Bandung). Hot. Inilah juga hawa dunia remaja sekarang. Kiamat sudah dekat? Wallahu a’lam. Yang memprihatinkan, budaya remaja yang merajalela sekarang ini bisa diibaratkan seperti sedang berganti kulit dengan mengimpor barat dan dimakan mentah-mentah. (Kalau remajanya orang alim sih pasti sudah muntah-muntah setelah makan (budaya) gituan). Tapi bagaimana remaja yang sudah tak mengenal agamanya? Dan agama hanya dijadikan syarat agar diakui menjadi warga Indonesia. (jadi mikir euy?)
Saya jadi ingat masa remaja dulu, dan sekarang mungkin juga masih ada, kalau kita melihat acara televisi buat para remaja seperti MTV-Music Television- ini pun akrab di kalangan remaja Jogja. Di tengah-tengah gencarnya peran indusri, industri entertainmentlah yang melambung tinggi dan dengan mudahnya disusupi para teknokrat barat dengan liberalisasinya. Tayangan silih berganti dan iklan di sana-sini. Gambaran yang secara gamblang mengajak para penikmatnya untuk terjun mengikuti arus yang dibawanya.
Saya berpikir acara seperti MTV yang bisa dibilang acara khusus kawula muda ini nyata-nyata memberi efek yang besar terhadap kehidupan di era global ini terutama bagi kalangan remaja. Sebagai contoh, MTV Pop Style adalah suatu acara khusus yang menyajikan tontonan mengenai gaya dandan artis-artis dalam dan luar negeri. Dalam acara yang berdurasi kurang lebih 15 menit ini, MTV memberikan kiat dan saran bagaimana agar bisa berdandan ala pesohor (selebritis) ternama. Tak ayal diundang selebritis seperti Missy Elliot, Avril Lavigne, Pink, Oasis, Korn, Rihanna dll yang sedang ngetop. Isinya tentang pembahasan cara mereka dandan, aksesoris yang mereka pakai, nama gaya dandanan mereka, dll. Dan itulah yang malah sering kawula muda tongkrongi dan mereka ambil sebagai budaya yang tak jelas manfaatnya. Pernak pernik seperti kalung, perching, tattoo, dan aneka petingsing lainnya menjadi dikonsumsi remaja. Ini tidak hanya saya lihat di Bandung yang dikenal sebagai Parijs van Java saja tetapi juga di Kesultanan Jogja. Mungkin karena kebebasan yang dijunjungkan, sehingga dijadikan alasan halal bagi mereka. Bak artis luar negeri, life style mereka ditiru habis-habisan.

Masih banyak acara televisi lainnya yang mengajak umat remaja untuk alih budaya seperti planet remaja, berbagai sinetron, dan film. Malahan di beberapa stasiun TV sempat pula menayangkan acara dewasa yang ditayangkan larut malam. Waktu saya SMP teman-teman saya suka ngobrolin tentang tayangan itu. Apalagi yang punya saluran parabola, ceritanya seolah gak masuk akal (langka) tapi nyata. Saya yang rumahnya di kampung otomatis cuma jadi pendengar doang. Bagaimana dengan mereka sekarang? Wah gak kepikir deh sudah seberapa jauh ‘pengetahuan’ mereka terhadap hal-hal yang dianggap tabu ini.
Di kota besar, di tengah senyapnya dunia saat mayoritas manusia pada tidur sebagian remaja berpesta (party, dugem) bersama DJ (disk jockey) dihiasi kemolekan dan erotisnya sexy dancer. Mereka terlelap kebudayaan sesat yang berkutat. Beberapa bulan lalu saat di saya ke Solo, tak jauh dari sebuah kampus, universitas negeri bahkan, tempat dugem pun bebas beroperasi. Jangan heran pula kalangan SMA sederajat pun sering mengadakan acara yang dihiasi sexy dancer itu sendiri, tak kalah dengan iklan spanduk yang mengiklankan even seperti itu di sudut-sudut kota. Naudzubillahi min dzalik. Mungkin, tak terkecuali Jogja ini. Sungguh pesta syahwat di kalangan masa dini telah menggejala.

Bagaimana dengan bacaan? Pernah suatu ketika saya main ke rumah kos teman, secara tak sengaja melihat majalah HA* yang merupakan majalah remaja terkenal. Dan sebagai remaja yang masih duduk di bangku kelas 1 SMA tentu saya ingin tahu apa sih yang di kupas dan diajarkan oleh majalah itu. Setelah melihat-lihat saya terus ‘tahu’. Pantas moral remaja ini hancur. Okey, sampai sekarang saya akui banyak remaja yang pintar-pintar. Tapi nggak tahu bagaimana moralnya?
Yang dikupas di majalah/tabloid bahkan koran harian ini di antaranya tentang seragam seksi yang dipakai cewek. Yang mana media tersebut mengajak para cewek SMP/SMA untuk memakai seragam seksi dengan segala bujuk rayunya. Dengan alasan biar gaul, seksi dan menarik tentunya. Disitu juga mempublish komentar dari para cowok SMA mengenai seragam seksi cewek. Sama aja cowoknya, semuanya komentarnya menandakan setuju, walaupun (mungkin) ada salah satu yang masih melihat sisi negatifnya. Salah satu alasannya untuk memperindah pemandangan.Dasar nafsu, pikir saya.

Merambat dari masalah semakin melebarnya aurat yang diumbar. Sebagai seorang remaja saya kenal betul budaya yang sedang mengenainya. Tidak jauh-jauh kali ini adalah budaya film biru atau maaf bahasa slangnya adalah bokep. Semasa saya sekolah dulu razia barang terlarang seperti itu di sekolah sering dilakukan. Dan 1-2 orang memang pernah tertangkap basah membawanya (berupa keping VCD). Itu dulu. Nah sekarang sudah seperti apa? Belum lama, suatu kali saya ngonangi remaja yang sedang duduk-duduk di pinggir warung memegang HP-nya. Saya sedang menunggu angkutan waktu itu. Saya perhatikan aktivitasnya. Eh, tak tahunya sedang nyepep (nonton video porno) dari hapenya. Wah, kemajuan dunia kemaksiatan pun bertambah seiring dengan kemajuan teknologi, saudara. Para orang tua perlu ketahui, bahwa video itu gampang ditemukan di warnet, rental CD, ataupun lewat infrared dan bluetooth dari HP. Video/gambar itu gampang sekali tersebar karena para remaja kebanyakan masih labil kepribadiannya. (saya bayangkan lha wong yang ndeso di jogja banyak anak yang punya kok apa lagi di kota?). Bedanya mungkin kalau yang remaja ndeso bentuknya lebih ke kepingan CD yang ditonton secara menggerombol. Maklum yang punya VCD terbatas dan umumnya CD tersebut digilir buat dipinjamkan kepada teman lainnya. Dan hal itu sudah membudaya waktu saya masih SMP. Dan di kota lebih ke media HP yang videonya biasanya dilihat dalam format 3GP. Padahal budaya sepep sangat merusak moral remaja.Video yang vulgar dalam hal hubungan seksual menjadi racun yang serius. Memang awalnya dilihat doang. Tapi justru pendidikan seks yang salah ini yang menyebabkan remaja salah jalan. Sebelum nikah sudah kawin (zina) duluan. Sungguh ter…la….lu.

Jogja. Bagaimanakah kehidupan free sexnya di sana? Iip Wijayanto, seorang peneliti, yang menghasilkan kesimpulan bahwa bahwa kemudian dia menemukan 97,05 persen di antara 1.600 mahasiswi di 16 kampus yang kos di wilayah Jogja Utara mengakui pernah berhubungan seks sebelum menikah (tak perawan). (Wallahu a’lam kevalidannya-pen). Keadaan yang dapat representatif menggambarkan remaja dengan pernak-pernik duniawinya. Faktanya sudah tak asing kalau itu terjadi. Lihat saja di sekeliling kita banyak sekali tempat-tempat yang menjadi nongkrongnya anak muda dengan ikhtilat (campur), berkhalwat (berdua-duaan) bersama lawan jenis sampai larut malam. Dan pulangnya tidak tahu pasangan tersebut menginap dimana atau sewa hotel mana.
Semua itulah yang terjadi di Indonesiaku detik-detik ini, tidak hanya Jogja saja. Remaja yang menjadi tulang punggung bangsa, yang telah diwanti-wanti para pahlawan kusuma bangsa untuk meneruskan kemerdekaan ini terancam oleh virus berbahaya yang berkedok memberikan kebebasan. Dan nenek moyang yang telah mewarisi budaya Indonesia (ketimuran) dan tercelup ajaran akhlaq islam pasti geleng kepala andaikan masih hidup. Sungguh budaya moral yang gagal. Saatnya benar-benar untuk menguatkan dan mengingatkan remaja kita dalam memilih budaya dan mengekspresikan diri. Apa saran, pendapat dan komentar Anda?

No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: